Selasa, April 01, 2014

CALEG DAN GOLPUT

Awiii ko Too Bai baru pulang dari Pak Laru di Pantai LLBK andia ko depung jalan su mamalek,  tapi su bagitu ko dia tetap semangat bacarita soal Caleg, ko dia pung hebat na !! Kata Teo Uli sambar bacarita deng suara keras dari dapur waktu dia dengar ini Bu Ato deng Too Anis bacarita di teras rumah. Trus Bu Ato tanya dengan Teo Uli, Teo Uli beta dengar Too Bai ikut Caleg ju ow ko dia pung Parte Nama apa, trus jawab Teo Uli, parte BINTANG  tapi beta sonde tusuk itu Parte b tusuk lain sa kata Teo Uli, trus apa Too Bai sonde marah ko Teo Uli tusuk lain, jawab Teo Uli bilang ko Too Bai dia mau marah beta ko, atau beta marah dia kambali to, itu sa ko repot. Ko Too Anis e jaman sekarang sonde ada orang yang mau paksa paksa lai sekarang katong tusuk sesuai hati nurani sa.
Walaupun Too Bain tusuk parte BINTANG, tapi beta pilih parte lain karna beta ju ada alasan ia to. Jawab Too Anis batul sakali Teo pung cara berpikir su bagus. Jawab Teo son mau kala, dia bilang, sapa dolo ko beta na!! Trus lanjut cerita Too Anis, dia jawab Ho lebe bae sa yang penting dong jangan ikut GOLPUT sa. Kalo dong itu GOLPUT alias golongan putih, itu rugi sakali bagi katong ju dan juga bagi pamarenta dong ju.
Sambar Too Anis berapi api.

Jumat, Juni 14, 2013

TITIK NOL

TITIK NOL
Arti Titik Nol :
Pernahkah anda merasa berada di titik nol ???
Dalam Alkitab pada kitab Pengkhotbah dikatakan bahwa hidup ini sia sia adanya, Itulah kesimpulan Pengkhotbah setelah ia mengeksplorasi berbagai cara yang ditempuh manusia untuk memuaskan hatinya dan menemukan makna hidupnya di dunia ini. Perkataan Pengkhotbah itu terdapat pada awal dan akhir kitab Pengkhotbah, yaitu pada Pengkotbah 1:2 dan 12:8.
Selain itu, dalam kitab ini kata “sia-sia” dan “kesia-siaan” muncul berulang kali. Hal itu menunjukkan maksud utama penulisan kitab ini, di mana Pengkotbah hendak menekankan kesementaraan dan ketidakberartian segala sesuatu yang ada di dunia ini. Banyak orang berusaha mencari kepuasan dan makna hidupnya dengan kesenangan tetapi menemukan kesia-siaan alias berada di titik nol.
Apakah kata Pengkhotbah tentang hal ini?Aku berkata dalam hati: “Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itupun sia-sia. (Pkh 2:1)Pengkhotbah melakukan segala upaya untuk menyenangkan hatinya sendiri (Pkh 2:3-10), tetapi inilah kesimpulan yang ia dapatkan:Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.
(Pkh 2:11)Mencari kesenangan hanyalah kesia-siaan belaka. Tak ada satu halpun di dunia ini yang dapat benar-benar menyenangkan dan memuaskan hati kita.Banyak orang berusaha mencari kepuasan dan makna hidupnya dengan kekayaan. Pengkhotbah pun mengobservasi hal ini (Pkh 5:9 – 6:2). 
Cinta Uang :
Lalu, bagaimana kesimpulannya mengenai kekayaan? Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? (Pkh 5:9-10)Memiliki kekayaan pun hanyalah kesia-siaan belaka. Uang tak akan dapat memuaskan hati kita. Sebaliknya, mengejar uang justru akan mendatangkan berbagai kesukaran pada kita. 
Rasul Paulus pun telah mengingatkan kita akan bahaya cinta uang dalam 1 Timotius 6:10:Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.Kitab Pengkhotbah ditulis oleh Salomo yang memiliki segala hikmat dan pengetahuan. Bagaimana pendapatnya mengenai hikmat dan pengetahuan? Dapatkah hikmat dan pengetahuan memberikan kepuasan dan makna hidup?
Mengejar Hikmad dan Pengetahuan juga Sia-sia :
Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku menyadari bahwa hal inipun adalah usaha menjaring angin, karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan. (Pkh 1:17-18)Ternyata mengejar hikmat dan pengetahuan juga adalah kesia-siaan. Hikmat dan pengetahuan tak akan dapat memuaskan hati kita.
Bekerjapun Sia-sia :
Bagaimana dengan segala pekerjaan yang dilakukan manusia di dunia ini? Pengkhotbah juga telah merenungkan hal ini. Dalam Pengkotbah 2:22-23 ia berkata:Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia.Ternyata tak ada bedanya. Bekerja pun adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Seberapapun kerasnya kita bekerja, kepuasan hati tak kunjung kita dapatkan.Sampai di sini mungkin ada yang bertanya: Bila mencari hikmat dan bekerja hanyalah kesia-siaan, apakah itu berarti kita tidak perlu mencari hikmat dan tidak perlu bekerja? Tidak! Jelas bukan demikian maksudnya. Allah menghendaki dan memerintahkan agar kita mencari hikmat. Misalnya, dalam Amsal 4:5 dikatakan:Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku.Selain itu, rasul Paulus juga menasihatkan agar umat Kristen bekerja. Dalam 2 Tesalonika 3:10 ia berkata:Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.Mencari hikmat dan bekerja harus kita lakukan. Akan tetapi, mencari kepuasan dan makna hidup dengan mengejar hikmat dan bekerja adalah sebuah kesia-siaan belaka.Masih ada banyak cara lain yang ditempuh manusia untuk menemukan kepuasan dan makna hidupnya. Akan tetapi, apakah kesimpulan dari semuanya itu? 
KESIMPULAN 
Bermakna jika dikerjakan dengan Takut akan Allah dalam Diri Yesus Kristus :
Segala sesuatu adalah sia-sia!Segala sesuatu baru bermakna bila dikerjakan dan dipergunakan dalam ketundukan kepada Allah. Itulah kesimpulan akhir yang ditarik oleh Pengkhotbah:Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. (Pkh 12:13-14)
Hidup kita di dunia ini baru bermakna bila kita menjalaninya dalam takut akan Allah. Allah akan menghakimi setiap perbuatan kita seturut keadilan dan kebenaran-Nya. Apakah gunanya kepuasan selama hidup yang singkat di dunia ini bila kelak kita menerima penghukuman kekal? Karena itu, marilah kita menjalani hidup dengan senantiasa memandang kekekalan.Bagi kita yang telah mengenal dan mengalami Kristus, tentunya kepuasan hati dan makna hidup telah kita temukan di dalam Kristus. Kristus telah mati dan disalibkan untuk menanggung segala hukuman dosa kita. Bagi kita yang percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat, tak ada lagi penghukuman untuk kita (Rm 8:1). Kelak kita akan dimuliakan bersama dengan Kristus (Rom 8:18).
Apa respon kita : Menyerahkan hidup kita untuk Tuhan menemukan Kepuasan sejati.
Maka, respons yang seharusnya kita berikan adalah mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah (Rom 12:1). Dengan mempersembahkan seluruh hidup kita kepada Allah, kita akan menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Augustinus mengatakan:You have made us for yourself, O Lord, and our hearts are restless until they rest in you.Hanya dengan kembali kepada Allah melalui Yesus Kristus kita akan mengalami kepuasan sejati dan tidak lagi berada dititik nol. Karena itu, marilah kita menyerahkan hidup kita kembali kepada Allah dan berkata seperti rasul Paulus: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Flp 1:21).
Sumber :
http://hartarohani.com/segala-sesuatu-adalah-sia-sia

Jumat, Agustus 08, 2008

BOIKOT PERBANAS SOAL BSMR MELEMAH

Frits News, Pernyataan Perbanas mengenai boikot pelaksanaan sertifikasi manajemen risiko oleh Badan Sertifikasi Manajemen Risiko akhirnya melemah karena berdasarkan surat Perbanas Nomor 336/skr/Pbn/VIII/2008 tanggal 1 Agustus 2008 yang merupakan hasil pertemuannya dengan BI tanggal 29 Juli 2008, dihimbau kepada seluruh anggota Perbanas untuk tetap mengirimkan para pengurus dan atau pejabat serta pegawai Banknya untuk tetap mengikuti Program Sertifikasi Manajemen Risiko baik melalui program regular maupun eksekutif sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan banknya masing-masing dan tidak perlu mengirimkan pengurus banknya untuk mengikuti program penyegaran (refreshment) dan koversi sertifikat manajemen risiko, demikian penjelasan Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono baru-baru ini.

Lebih lanjut Sigit menjelaskan bahwa saat ini Bank Indonesia sedang melakukan kajian-kajian dan meminta masukan dari berbagai pihak termasuk Perbanas untuk menyempurnakan Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang terkait dengan program sertifikasi manajemen risiko tersebut. Jadi sambil menunggu selesainya penyempurnaan PBI tersebut maka Program SMR yang sudah terjadwalkan sampai dengan akhir tahun 2008 tetap dijalankan.

Kalangan Perbankan menyambut surat Perbanas tersebut dengan nada dingin karena dari awal sudah mengetahui hasilnya (Fr).

Jam